Hujan deras yang mengguyur Sumbar, khususnya Kota Padang, sejak kemarin (21 November), diperkirakan akan terus berlangsung hingga akhir bulan. Melalui artikel ini, mari kita bahas lebih lanjut mengenai penyebab hujan deras di Ranah Minang.
Uda Uni,
Pada umumnya, bila terjadi hujan deras sehari semalam, keesokan harinya Ranah Minang pun akan terasa cerah. Namun siapa sangka, hujan deras yang mengguyur hampir seluruh wilayah Sumbar ini diperkirakan akan terus berlanjut hingga akhir bulan November 2025 nanti.
Badan Meteorologi,
Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan bahwa Sumatera Barat (Sumbar) saat
ini sedang berada di bawah pengaruh kombinasi alamiah yang luar biasa kuat. Hal
ini mendorong terjadinya cuaca ekstrem yang berpotensi memicu bencana seperti
banjir dan tanah longsor.
Kondisi ini
diperkirakan akan terus berlangsung dengan intensitas tinggi hingga pekan
depan, bahkan kemungkinan hingga akhir November 2025.
Tiga
Faktor Utama Pemicu Cuaca Ekstrem di Sumatera Barat
BMKG menjelaskan bahwa
cuaca ekstrem di wilayah Sumbar saat ini bukan hanya fenomena lokal, melainkan
hasil dari kombinasi tiga pemicu utama yang bekerja secara bersamaan, bermuara
pada satu tujuan yaitu menciptakan awan hujan yang super tebal.
1.
Penguatan Monsun Asia: Kiriman Uap Air dari Utara
Uda Uni mungkin pernah
mendengar tentang istilah Monsun Asia. Angin ini merupakan pembawa musim hujan.
Pada periode ini, Monsun Asia sedang berada dalam fase penguatan maksimal.
Ibaratnya, Monsun ini mengirimkan kereta besar yang sarat muatan uap air dan
kelembaban melintasi Samudra Hindia, langsung menuju pantai barat Sumatera.
2.
Pertemuan dengan Bukit Barisan
Ketika massa udara
lembap yang dibawa Monsun itu bergerak ke timur dan bertemu dengan deretan
Bukit Barisan, udara lembap ini pun dipaksa untuk naik meninggi. Proses inilah
yang disebut orographic lifting.
Udara panas dari laut yang bertemu dinginnya ketinggian akan langsung terkondensasi,
menciptakan pabrik awan yang menghasilkan hujan lebat, bahkan badai di kawasan
perbukitan dan sekitarnya.
3.
Bantuan Energi dari Samudra: IOD Negatif
Kondisi ini kemudian
diperparah oleh dukungan dari lautan, yaitu Indian Ocean Dipole (IOD) Negatif.
Anomali ini menyebabkan suhu permukaan laut di perairan barat Sumbar terpantau
lebih hangat.
Fenomena IOD Negatif
ini ibarat kompor yang sedang memanaskan air, yang secara signifikan menambah
pasokan uap air dan energi bagi pembentukan awan hujan. Fenomena Gelombang
Rossby Ekuatorial juga turut andil sebagai pemompa yang menguatkan pertumbuhan
awan konvektif.
Imbauan
Kesiapsiagaan untuk Warga Sumatera Barat
BMKG juga turut
memperingatkan bahwa dengan intensitas hujan yang begitu lebat beruturut-turut,
risiko bencana hidrometeorologi pun naik berkali lipat. Tentunya kita pun tidak
boleh lengah akan kemungkinan buruk yang terjadi.
* Waspada Longsor:
Hujan deras di Sumbar memang identik dengan tanah longsor. Bagi Uda Uni yang
menetap di lereng atau kaki bukit, mohon untuk selalu waspada terhadap
pergerakan tanah. Persiapkan diri, anggota keluarga, serta barang-barang yang
diperlukan secukupnya jika ada kemungkinan harus evakuasi.
* Siaga Banjir: Bagi
Uda Uni yang bertempat tinggal dekat sungai, ancaman banjir bandang juga tak
luput dari kewaspadaan. Selalu pantau informasi sambil mempersiapkan diri jika
harus melakukan evakuasi.
* Hati-hati di Jalan:
Derasnya hujan tentu tidak boleh menghalangi kita yang memang berkegiatan di
luar rumah. Jangan lupa untuk menyiapkan payung, jas hujan, pakaian ganti,
serta persiapan lainnya yang mungkin diperlukan. Kurangi kecepatan kendaraan
serta pantau terus informasi ruas jalan yang kemungkinan sudah terkena banjir.
Kondisi alam adakalanya
memang tidak bisa dihindari. Mari kita jaga diri, anggota keluarga, serta
lingkungan terdekat agar terhindar dari kemungkinan buruk yang tidak
diinginkan. Tak lupa untuk selalu memantau informasi melalui BMKG serta akun
media lokal Sumbar yang terpercaya. Salam dari Padang!
Sumber Informasi: BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Minangkabau

Comments
Post a Comment
Terima kasih Uda Uni sudah singgah. Maafkan atas komentar yang harus dimoderasi lebih dulu. Terundang singgah kembali pada artikel lainnya.