Fenomena Sinkhole Lima Puluh Kota: 'Sumur Raksasa' yang Terbentuk di Bawah Sawah

Teka-teki mengenai fenomena lubang raksasa (sinkhole) yang menelan lahan pertanian di Pombatan, Nagari Situjuah Batua, Situjuah Limo Nagari, Lima Puluh Kota, Sumatera Barat akhirnya terungkap secara ilmiah. Lubang berdiameter 20 meter dengan kedalaman sekitar 15 meter ini muncul mendadak pada Minggu pagi (4/1/2026) dan melahap areal persawahan produktif milik warga.

Hingga Kamis (8/1/2026), lokasi tersebut masih dipantau ketat oleh pihak berwenang. Musibah ini tentu menjadi pukulan berat bagi petani setempat. Lahan sawah yang selama ini menjadi sumber penghidupan, kini berubah menjadi rongga gelap yang sangat luas.

Fenomena Sinkhole
Sinkhole di Lima Puluh Kota, Sumatera Barat

Uda Uni,

Terbayangkah oleh Uda Uni bagaimana rasanya, ketika saat pagi hari tiba dan hendak beraktivitas seperti biasanya di sawah, namun di tengah lahan tersebut ternyata mendadak muncul lubang berdiameter raksasa?

Begitulah yang dialami seorang petani di Nagari Situjuah Batua saat hendak pergi ke sawah pada Minggu pagi. Hal ini sungguh mengejutkan warga setempat, mengingat sebelumnya tidak ada suara dentuman keras maupun pertanda lainnya. Tahu-tahu, pemilik sawah dan warga mendapati selingkaran tanah yang sudah amblas.

Memang, berdasarkan kesaksian warga di sekitar lokasi, beberapa hari sebelum tanah amblas total, sebenarnya sempat terlihat genangan air yang tak kunjung surut di titik tersebut, dan permukaan tanah pun mulai sedikit melandai (melegok). Namun, saat itu tak ada yang menyangka bahwa itu adalah tanda "atap" tanah yang sedang bersiap untuk runtuh.

 

Proses Geologis: Bukan Kejadian Instan

Fenomena tanah amblas secara tiba-tiba ini memang memicu banyak spekulasi. Namun, tentu kita perlu menyimak penjelasan dari para ahli agar mendapatkan informasi yang akurat.

Berdasarkan kajian tim ahli Badan Geologi Kementerian ESDM, gua atau lorong di bawah sawah warga tersebut bukanlah kejadian instan. Proses pembentukannya diprediksi sudah berlangsung selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun secara tersembunyi.

Di bawah lapisan tanah sawah Situjuah, terdapat lapisan Batu Gamping Malihan (mirip marmer) yang sangat keras dan kedap air. Batu ini bertindak sebagai "lantai" alami yang menahan air hujan agar tidak meresap lebih dalam ke bumi. Akibatnya, air mengalir ke samping di atas lantai batu tersebut sambil perlahan "mencuri" butiran tanah halus sedikit demi sedikit.

Proses rahasia yang disebut Erosi Buluh (piping erosion) ini terus menggerus fondasi sawah hingga menciptakan rongga raksasa yang menyerupai sumur tanpa dinding semen di bawah permukaan tanah.

 

Analogi "Sumur Raksasa" dan Efek 'Bridging'

Fenomena ini dapat Uda Uni bayangkan seperti sebuah sumur raksasa berdiameter 20 meter yang terbentuk secara alami di bawah tanah. Selama prosesnya, permukaan sawah di atas tetap terlihat rata karena tanah mampu "menggantung" layaknya atap (efek bridging).

Namun, hujan deras yang mengguyur wilayah Lima Puluh Kota baru-baru ini menjadi pemicu akhir. Beban tanah sawah yang basah menjadi sangat berat, sementara penyangganya di bawah sudah kosong melompong. Akhirnya, "atap" tersebut pun jebol ke bawah.

Secara teknis, tanah yang tergerus dari bawah sawah tersebut hanyut mengikuti arah aliran air menuju tempat yang lebih rendah, seperti sungai atau mata air terdekat. Fenomena ini sering kali dipercepat oleh sistem irigasi sawah yang bocor. Air yang merembes secara terus-menerus di satu titik yang sama mempercepat pengikisan tanah di bawah permukaan, sehingga rongga terbentuk lebih cepat.

 

Bahaya Mengintai: Mengapa Dilarang Mendekat?

Suatu keanehan adakalanya memicu rasa penasaran banyak orang untuk melihatnya secara langsung. Begitu pun dengan fenomena sinkhole ini -- apalagi setelah viral di media sosial. Ramai orang dari luar Lima Puluh Kota berbondong-bondong mendekati lokasi tanpa menyadari adanya bahaya yang mengancam.

Pihak berwenang pun juga telah mengeluarkan peringatan keras bagi warga, untuk tidak mendekati bibir lubang karena beberapa risiko:

 * Dinding yang Labil: Tanpa penyangga semen, dinding lubang murni terdiri dari tanah rapuh yang bisa longsor seketika akibat getaran langkah kaki atau beban manusia.

 * Risiko 'Gua Tetangga': Aliran air bawah tanah biasanya bercabang. Sangat mungkin terdapat rongga-rongga kosong lain di sekitar lubang utama yang "atapnya" belum runtuh.

 * Kedalaman Mematikan: Dengan kedalaman setara gedung 5 lantai dan dinding yang licin, peluang untuk menyelamatkan diri jika terjatuh sangatlah kecil.

 * Lubang "Bernapas": Suara hembusan angin dari dalam lubang adalah fenomena tekanan udara alami, yang menandakan adanya koneksi lorong bawah tanah yang sangat luas.

 

Dilarang Menimbun dan Potensi Menjadi Embung

Sebagai pemilik sawah atau warga setempat, mungkin terlintas pikiran untuk menimbun lubang tersebut agar sawah kembali seperti semula. Namun, warga diingatkan untuk tidak melakukannya secara sembarangan dengan tanah apalagi sampah. Tindakan ini justru akan menyumbat aliran air bawah tanah yang asli dan memaksa air mencari jalan baru, yang berisiko memicu amblasan di titik sawah lainnya.

Alih-alih ditimbun, lokasi ini memiliki kemungkinan untuk berubah menjadi danau kecil atau embung penampungan air secara alami. Karena dasarnya terdiri dari batuan kedap air, lubang ini bisa menampung air hujan dan aliran bawah tanah, yang nantinya mungkin bisa dimanfaatkan kembali untuk kepentingan irigasi sawah di sekitarnya.

 

Fenomena Serupa di Tempat Lain

Uda Uni, ternyata kejadian sinkhole di area persawahan ini bukan pertama kalinya terjadi di Indonesia. Fenomena serupa pernah tercatat di beberapa wilayah, antara lain:

* Sukabumi (Jawa Barat): Muncul lubang besar di tengah sawah di Kadudampit (2018).

* Gunungkidul (DIY): Fenomena langganan di daerah batuan kapur (karst).

* Maros (Sulawesi Selatan): Amblasnya lahan pertanian warga akibat faktor air tanah.

 

Imbauan Keselamatan

Mengingat fenomena sinkhole ini cukup membahayakan, inilah beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh warga setempat maupun para "wisatawan" yang ingin berkunjung:

* Zona Bahaya: Area yang melandai (melegok) di sekitar lubang adalah zona terlarang. Jangan jadikan lokasi ini tempat menonton atau berswafoto.

* Pantau Irigasi: Petani diimbau rajin mengecek kebocoran pada parit sawah untuk mencegah rembesan air yang bisa memicu rongga baru.

* Jaga Kebersihan: Dilarang keras membuang sampah ke dalam lubang agar tidak mencemari kualitas air tanah yang tersambung ke sumur-sumur penduduk.


Kita semua tentu berharap agar fenomena ini segera stabil dan tidak ada lagi lahan warga yang terdampak amblasan susulan. Semoga masyarakat di sekitar lokasi, khususnya para petani di Nagari Situjuah Batua, senantiasa dilindungi dari marabahaya. Mari kita tetap waspada dengan mematuhi zona aman demi keselamatan bersama. Salam hangat dari Padang!

Comments